Ibu Mertua Membawa Karung Busuk ke Rumah, Aku Marah Sampai Mengusirnya! Tapi Bila lihat Isinya Dikeluarkan, Aku Terus Nangis Menyesal!

Sharing is caring!

Saya dan suami adalah teman SMA, kami sama- sama tidak lanjut kuliah dan tinggal bersama di sebuah kamar kecil.

Setelah menikah 3 tahun, saya pun hamil. Entah mengapa dulu saya tidak berpikir panjang dan ingin cepat menikah, padahal ayah ibu suami saya hanyalah petani, keluarga mereka pas- pasan, sampai membeli rumah saja tidak bisa..

Loading...

Saya sebenarnya tidak begitu memandang kedua mertua, mereka hanyalah petani miskin…

Ayah ibu saya sendiri bekerja sebagai tukang, sebenarnya uang mereka pun tidak banyak, tapi saat menikah, mereka masih memberi saya sedikit uang tunjangan.

Tapi semua itu tidak cukup untuk membiayai hidup saya dan suami. Pekerjaan suami juga petani, hidup kami benar- benar pas- pasan, kami hanya mampu menyewa sebuah kamar kecil.

Perut saya semakin lama semakin besar, terakhir saya tidak bisa bekerja lagi.

Meskipun saya sudah pengangguran di rumah, tapi saya tidak pernah pergi mengunjungi mertua.

Kedua mertua seumur hidup tidak pernah pergi meninggalkan rumah jauh- jauh, tapi suatu hari, ibu  mertua menelepon saya.

Loading...

Ia berkata ia ingin merawat saya, saya bilang tidak usah, rumah saya juga sangat kecil, tidak ada ruangan lebih lagi untuk menampung ibu mertua.

Ya, ibu mertua menutup telepon dengan tidak senang, saya berpikir masalah ini sudah berlalu begitu saja, tapi ternyata ibu mertua sungguh- sungguh datang ke rumah saya!

Ia bahkan menyuruh saya menjemputnya di stasiun.

“Perut saya udah besar begini, masih suruh saya pergi jemput?”,pikir saya kesal..

Tidak lama kemudian, ibu mertua pun menelepon, saya bilang saya tidak bisa jemput dan menyuruhnya naik bus. Eh, tapi ia malah menjawab, ia tidak mengerti bagaimana cara naik bus.

Yah, apa boleh buat, karena suami pun sedang bekerja, akhirnya saya pun pergi menjemputnya.

Ia benar- benar seperti orang kebingungan, ia bahkan tidak tahu dirinya sendiri sedang berada di stasiun mana.

Saya berjalan hampir 40 menit hanya untuk mencarinya, saya benar- benar kelelahan dan sangat marah.

Saya pun berpikir tampaknya mertua ini sengaja ingin menyusahkan saya agar saya keguguran!

Akhirnya, saya pun membawa ibu mertua ke kamar, sepanjang perjalanan saya sama sekali tidak mengajaknya bicara.

Loading...

Ibu mertua masih berusaha mengajak saya ngobrol, namun saya hanya menjawab seadanya saja.. “Ohh, Heeh.. Iya..”, seperti itu..

Sesampainya di rumah, ibu mertua pun melihat kamar kecil saya, di sana hanya ada dapur kecil dan 1 kamar mandi, barangnya pun berantakan (Maklum saya tidak punya rak untuk menyusun barang- barang).

Sampai saat itu, saya baru sadar ibu mertua membawa karung yang sudah sangat jelek ke rumah. Saya pun bertanya, ” Ibu ngapain bawa karung petani seperti ini?”

“Oh, ini saya bawakan obat tradisional, diminum yah, biar bayinya gendut nanti.”

Saya langsung menatap dengan tatapan sinis dan berpikir, ” Apa? Udah repotin orang, sekarang malah disuruh makan obat buat bikin bayi gendut? Mau bikin saya mati waktu melahirkan ya?!”

Saya sama sekali tidak mengatakan terima kasih dan langsung berkata, “Bu, rumah saya kecil banget nih, gak nyaman sekali, saya juga bisa jaga diri kok. Ibu mendingan pulang saja.”

“Tapi sudah malam begini, memang masih ada bus?”

“Iya tak masalah, saya panggilkan ibu taksi, ibu pulang saja. Obatnya juga saya simpan kok.”

Ya, akhirnya saya pun memaksa ibu mertua pulang dengan cara seperti ini.

Setelah kembali ke kamar, saya sebenarnya sudah ingin membuang karung pertani pemberian ibu mertua, tapi akhirnya saya memutuskan untuk membukanya dulu.

Saat sudah terbuka, saya tidak menyangka! Ternyata di dalamnya berisi obat- obatan, beberapa Kg ubi dan sebuah amplop merah!

Ternyata isi amplop merah itu adalah sebuah kartu bank dan sepucuk surat. Di dalam surat itu tertulis tulisan yang bengkok- bengkok, tampaknya yang tulis adalah ayah mertua.

Isi kartu bank tersembut ternyata mencapai 20 juta rupiah! Meskipun tidak begitu banyak, namun entah berapa lama ibu dan ayah mertua bisa menabung sampai jumlah ini.

Astaga, ternyata ibu ayah mertua begitu baik, tapi saya malah mengusirnya dengan dingin. Apa yang saya lakukan?

Saya hanya bisa menangis menyesal….

Loading...

Saya berjanji tidak akan bersikap tidak hormat lagi pada ayah ibu mertua, saya baru belajar, ternyata mereka pun sayang saya…

 

Sumber: Happy

Di kemaskini dan Di olah Oleh : Kisah Benar Media Network
Loading...